Meriah...
Murni kesenangan yang terpampang...
Sisi kumuh yang menyambut dengan senyum dan tawa,
Mulai dari berlimpahnya makanan sederhana,
Sampai persaingan yang mengkombinasikan cara bertahan hidup,
Melebur sejenak dengan tanah dan air...
Meriah...
Murni kesenangan yag terpampang...
Sisi agung yang menyambut dengan keburu-buruan,
Mulai dari seragam yang berkilauan,
Sampai prasmanan makan siang yang berisikan rayuan,
Melebur sejenak tanpa atasan dan bawahan...
Meriah...
Murni kesenangan yang terpampang...
Sisi sepi yang menyambut dengan sinis,
Memulai dengan doa dan caci maki,
Sampai tawa dan gelengan kepala yang mengungkap kekonyolan
fakta,
Melebur sejenak dalam mimpi pagi...
Cerminnya sudah pecah...
Cermin akan air mata saat pengibaran bendera dan teriakan
sajak W.R. Soepratman,
Cermin akan air mata saat mempertaruhkan nyawa untuk
anaknya,
Cermin akan pemikiran-pemikiran yang membunuh bumikan para
pemikir itu sendiri,
Cermin akan pertanyaan sederhana yang menguras air mata...
Ketuhanan akan jaman telah mengubah semuanya...
Mempersingkat perjuangan menjadi kelahiran,
Mempermudah kesakralan menjadi keterpaksaan,
Melacurkan senyum dan air mata menjadi tawa dan bahan tidur
siang,
Mempersingkat ratusan tahun menjadi empat jam...
Masih ada...
tiga atau lima diluar sana,
masih memperhatikan tanpa suara...
masih melantunkan doa dan harapan...
masih meneteskan air mata dan memberikan senyuman...
masih percaya...
Merdeka itu mudah...
Menjaganya yang tidak mudah...
No comments:
Post a Comment