Tuesday, June 1, 2021

Gerombolan Huruf dan Tanda Baca

 


 Hei... Bung, bagaimana hari ini?

Aku boleh dong dibuatkan kopi hitam... biasa...tanpa gula ya


Pemikiran-pemikiran sederhana saja...tidak perlu istilah-istilah palsu yang memburamkan sebuah arti, membentuk pertanyaan baru dan melupakan pertanyaan lama...kemudian hilang, dan terlupakan. Standar.

Kenapa tidak ? Menjadi manusia itu sederhana... tak serumit mempelajari sejarah sebuah bangsa dan budayanya... tak serumit membunuh sesama demi membenarkan setiap agama atau kepercayaan... tak serumit mengatur strategi untuk saling menjatuhkan... tak serumit menghitung rumus untuk membuat resep makanan dari hasil daur ulang... bahkan tak serumit menyusun kata untuk saling menghina.

Layaknya hidup dan mati, pria dan wanita, hitam dan putih, siang dan malam, hanya perlu sebuah harmoni. Sebuah harmoni yang penuh sesak dengan warna, perbedaan, dan rasa... Sebuah harmoni yang akan mentiadakan kelaparan, peperangan, kecemburuan, bahkan mentiadakan ribuan pembenaran diutarakan demi sebuah kompetisi... yang apapun nama dan alasannya, kompetisi itu selalu menghasilkan Yang Terbaik, dan mengganti kita dengan aku. 

mmm... aktifitas hari ini mungkin biasa saja , tapi selalu terbayarkan oleh hal yang tak ternilai angka... melihat dan mempelajari setiap kharakter, dan menghargainya... mengenal semesta yang terdekat, dan menyadari...bahwa ini adalah bagian terkecil[Nya]... belajar berbagi, dan menghargai agar bisa menjadi manusia... dan lain sebagi[Nya].

Meri  ah... 

Murni kesenangan yang terpampang... Mulai dari seragam yang berkilauan, sampai prasmanan makan siang dengan menu rayuan, melebur sejenak tanpa atasan dan bawahan...


Mer  iah...

 Sisi sepi yang menyambut dengan sinis memulai dengan doa dan caci maki, kemudian tawa dan gelengan kepala yang mengungkap kekonyolan fakta, melebur sejenak dalam mimpi pagi...


Me  riah... 

Ketuhanan akan jaman telah mengubah semuanya... Mempersingkat perjuangan menjadi kelahiran, mempermudah sayang menjadi bahan tidur siang, mempersingkat ratusan tahun menjadi sembilan sampai duabelas jam...


Masih ada... tiga atau lima diluar sana yang memperhatikan tanpa suara...yang melantunkan doa dan harapan...yang memberikan senyuman...yang masih percaya...

Menjadi manusia itu sederhana. 

berbagi. Sebuah kata yang sederhana... sebuah kata yang tak memerlukan syarat dan ketentuan... sebuah kata yang akan didampingi oleh kata menghargai... sebuah kata yang didasari oleh rasa... sebuah kata yang sederhana.

Apapun pendapat kalian akan tulisan ini, setidaknya bahasa basi ini terbaca... setidaknya gerombolan huruf dan tanda baca ini dapat memuntahkan pendapat (saya pribadi) ... setidaknya kalian masih memakai celana dalam.


Bahagia itu mudah...menjaganya yang tidak mudah.

#udahgituaja

Saturday, October 24, 2020

Masihkah ?

Belum terjawab apa yang telah terjadi.


Tumpah saat tak ada lagi cahaya menusuk kornea kita.Kenapa? 


Mungkin akan lebih mudah bila hanya diam,buta akan cahaya dan hanya menjalaninya.

Mungkin.


Teguran akan hal yang hilang tanpa kita tahu.Jenis kehidupan yang beragam kadang buat apa kalau hilang sudah rasa percaya.

Mungkin.


Semua tanda baca masih tertinggal di rangka yang akan pecah ini.


Aku?


Besok? 


Mungkin...

Monday, October 19, 2020

Hujan dan Do'a

 

Getir yang terangkat saat langit menyampaikan pesan...

Mengalir bersama harapan yang terbuang...

Kemudian pertanyaan demi pertanyaan terlontarkan...


Tuhan, kenapa harus ada hujan?

Lalu...matahari dan pelangi pun terangkat...

dan menjawab dengan samar cahaya yang menyerupa kehidupan.


Tuhan, kenapa Kau pekakkan sejuknya dengan petirMu?

Lalu...hening pun tercipta setelah badai...

Jawaban yang Tenang... 

Setenang masalah yang terselesaikan dengan sendirinya...


Seperti yang pernah diucapkannya...

"Selalu ada genangan setelahnya".


Kesempurnaan pesan yang disampaikan, 

adalah "saat tetesnya yang melemah masih menyentuh bumi..."


Tuhan,

Terima kasih untuk sejuk yang Kau berikan padanya, semoga dapat menyejukkan sepinya...


amiin.

Sunday, August 17, 2014

Air Mata Merdeka



Meriah...
Murni kesenangan yang terpampang...
Sisi kumuh yang menyambut dengan senyum dan tawa,
Mulai dari berlimpahnya makanan sederhana,
Sampai persaingan yang mengkombinasikan cara bertahan hidup,
Melebur sejenak dengan tanah dan air...

Meriah...
Murni kesenangan yag terpampang...
Sisi agung yang menyambut dengan keburu-buruan,
Mulai dari seragam yang berkilauan,
Sampai prasmanan makan siang yang berisikan rayuan,
Melebur sejenak tanpa atasan dan bawahan...

Meriah...
Murni kesenangan yang terpampang...
Sisi sepi yang menyambut dengan sinis,
Memulai dengan doa dan caci maki,
Sampai tawa dan gelengan kepala yang mengungkap kekonyolan fakta,
Melebur sejenak dalam mimpi pagi...

Cerminnya sudah pecah...
Cermin akan air mata saat pengibaran bendera dan teriakan sajak W.R. Soepratman,
Cermin akan air mata saat mempertaruhkan nyawa untuk anaknya,
Cermin akan pemikiran-pemikiran yang membunuh bumikan para pemikir itu sendiri,
Cermin akan pertanyaan sederhana yang menguras air mata...

Ketuhanan akan jaman telah mengubah semuanya...
Mempersingkat perjuangan menjadi kelahiran,
Mempermudah kesakralan menjadi keterpaksaan,
Melacurkan senyum dan air mata menjadi tawa dan bahan tidur siang,
Mempersingkat ratusan tahun menjadi empat jam...

Masih ada...
tiga atau lima diluar sana,
masih memperhatikan tanpa suara...
masih melantunkan doa dan harapan...
masih meneteskan air mata dan memberikan senyuman...
masih percaya...

Merdeka itu mudah...
Menjaganya yang tidak mudah...